Home Fact Sheet dan Artikel MEMOTRET JUGA HARUS MENGGUNAKAN OTAK DAN HATI
MEMOTRET JUGA HARUS MENGGUNAKAN OTAK DAN HATI PDF Cetak Surel

Saat ini kamera foto sangat beragam merek, jenis, dan spesifikasinya, juga harganya. Dari yang sederhana dan murah hingga yang canggih berharga mahal. Dengan sekali sentuh, bahkan untuk orang yang saat itu belum pernah mengambil gambarpun, seketika itu jadilah ia seorang ‘fotografer’. “Tolong mas, saya difoto pakai kamera ini,” pinta seorang pemilik kamera yang ingin difoto. “Gimana caranya, mana yang dipencet?” tanya orang yang dimintai tolong yang ternyata masih awam, setidaknya dengan kamera bukan miliknya itu. “Ini pak tombol off/on-nya dan ini tombol untuk motretnya,” jawab pemilik kamera. “Oke, siaaap? Satu… Dua… Tiga… (cekrek!)” teriak si fotografer memberi aba-aba.

Foto bukan lagi “barang mahal” baik dalam arti kiasan maupun sesungguhnya. Pada era foto analog –- yang masih menggunakan film negatif, kemampuan seseorang memfoto secara kualitas dapat diukur dengan berapa banyak foto yang “sukses” secara teknis maupun pesannya dari 1 rol film negatif yang digunakannya. Semakin banyak semakin kelihatan kemahiran si fotografer. Namun sekarang, dengan mudah orang akan mengambil banyak gambar -- ratusan hingga ribuan, tergantung kapasitas penyimpannya --, dan dengan enteng dan tanpa rasa sayang akan menghapusnya untuk gambar-gambar yang dianggap tidak bagus atau tidak ia sukai. Toh orang lain tidak tahu. Juga biaya produksinya tidak begitu signifikan selisihnya. Cuma masalah baterei saja…


Bagi fotografer sejati, foto adalah “bahasa gambar” untuk menyampaikan pesan-pesan yang diinginkannya. Sebagai bahasa gambar, fotografer harus tahu alasan apa yang membuat dia memotret. Bagaimana usahanya agar foto yang dihasilkan mampu bercerita dan mempengaruhi orang lain.

Jika fotografer tahu alasan memotret maka ia juga akan tahu sudut pemotretan yang akan diambil. Untuk itu, fotografer harus memperhatikan lingkungan sekitarnya dan terkadang perlu memotret dengan mencuri-curi.

Memotret juga harus menggunakan otak dan hati. Sebuah obyek atau suasana yang biasa-biasa saja atau monoton, di tangan seorang fotografer yang memiliki jiwa seni, hasil fotonya bisa menyampaikan pesan lebih, bahkan bisa muncul suasana lain di dalamnya yang mungkin orang kebanyakan tidak merasakannya. Oleh karenanya, bagi seniman fotografi yang penting adalah foto itu bisa bicara dan menginspirasi. Dia tidak melihat dari jenis atau merek kamera yang digunakan karena foto tidak hanya mengandalkan teknik. Sebaliknya, kalau foto yang dihasilkan hanya sekedar merekam obyek dan suasana ala kadarnya atau hasil fotonya sama terus, berarti fotografer tersebut adalah perajin foto atau tukang foto. Bukan seniman foto. 

Untuk itu, kita harus bisa memanfaatkan foto. Apakah sebagai hobi, industri, atau dokumentasi. Kalau sebagai hobi, maka kita bebas mengekspresikan berbagai kreasi dalam memotret. Kalau sebagai industri maka kita harus peka terhadap kebutuhan pengguna (pasarnya). Bila sebagai dokumentasi, maka kita tidak sekedar memotret saja, melainkan perlu paham tentang banyak hal terkait metodologi yang dikembangkan, filosofi, dan prinsip-prinsip yang mendasarinya. Sebagai contoh, sudah jelas kegiatan seminar ini adalah seminarnya petani, maka fotografer yang paham akan dokumentasi akan sibuk berekspresi mengambil gambar-gambar petani yang sedang beraksi dan berbicara sebagai pemakalah. Bukan asyik memotret sambutan pejabat yang kebetulan ada di seminar ini. Sudah jelas-jelas program yang ingin didokumentasikan adalah pengembangan pertanian ramah lingkungan, pasti saja fotografer akan tidak akan berfokus pada memotret pestisida atau petani yang sedang menyemprot dengan pestisida kimia.

Berbagai kreasi ide bisa direalisasikan dengan tidak gagap teknik dan komposisi sebagai tata bahasa dalam berkomunikasi melalui foto. Kamera secanggih apapun tidak bisa mencari obyek sendiri. Jadi peran manusia di belakangnya lebih penting. Tidak perlu takut untuk memotret selama kita jujur dan di dalamnya ada pengalaman pribadi. Walaupun nantinya ketika ditanyakan pada orang lain pasti akan ada saja masalah di teknik pengambilan gambar. Namun yang lebih penting hasil foto bisa mengispirasi orang lain, baik itu berupa keindahan atau rasa tertentu seperti jengkel, gelisah, senang, sedih, dll.


Dari berbagai sumber. Tripa26032011Jogja