Home Tampilan Tabel Bersahabat dengan Alam Rawan Bencana
Bersahabat dengan Alam Rawan Bencana PDF Cetak Surel

Rabu, 07 Maret 2012 00:00 WIB

MI/Yose Hendra/sa.

Syafrizaldi, 36, menyadari bahwa tanah kelahirannya, Sumatra Barat, rawan bencana. Rekam jejak sejarah menunjukkan, Tanah Minang berada dalam pertemuan sesar sehingga rawan gempa. Di saat yang sama, Sumatra Barat, juga kawasan lain di negeri ini, juga mesti bersiap dengan perubahan iklim. Syafrizaldi pun berkampanye tentang penyelamatan alam selama 10 tahun terakhir. Syafrizaldi yang akrab dipanggil Aal Japang ini menjadikan aspek ekonomi sebagai tulang punggung programnya. Ia ingin masyarakat desa mandiri agar bisa hidup berdampingan dengan alam secara baik. Syafrizaldi, kini menjadi project manager di lembaga swadaya masyarakat Farmer Initiatives for Ecological Livelihoods and Democracy (FIELD) Building Disaster and Climate Change Resilience in Padang Pariaman Farmer Communities (Bumi Ceria). Tujuan lembaga itu, menyadarkan masyarakat lokal tentang potensi sekaligus mengenali kerentanan dan risiko yang ada. "Jika tidak dikelola baik, kerusakan iklim akan berpotensi menjadi bencana besar yang dampaknya tak kalah besar," ujar Syafrizaldi.


Kesadaran itu coba ditumbuhkan dalam sekolah lapangan (SL) yang dilakukan secara berkala. Kelompok Sajati Sungai Sariak Baso di Agam contohnya, melaksanakan sekolah lapangan ubi jalar. Mereka berfokus pada penyakit silas pada ubi jalar. Mereka kemudian menularkan ilmu yang mereka pelajari pada kelompok tani lain. Di Kayu Gadang, Padang, para petani mempelajari pare. 

Bibit lokal

Petani juga diberi metode untuk mengembangbiakkan bibit padi lokal. Hasilnya, berbagai varian bibit lahir dari persilangan petani. SL kini berlokasi di 20 nagari. Hutan gundul di nagari-nagari tersebut menjadi sasaran implementasi. 

"Di sana dilakukan penanaman kayu, kemudian akan dilakukan kontrol hingga kayu membesar," kata Syafrizaldi. 

Adapun di sektor pertanian organik, petani kakao kini paham bahwa kulit kakao tidak perlu dibuang, tapi dimasukkan kelubang. Selain mengendalikan hama, kulit kakao juga menjadi pupuk. 

Aktivitas kampanye juga dilakukan di Medan, Sumatra Barat, dan Jambi. "Titik tolak setiap program adalah memanusiakan manusia. Orang dianggap manusia, otomatis energinya akan berlipat ganda untuk mencapai kesuksesan. Wujudnya, kami menghargai pengalaman dan prinsip mereka. Penerapannya, kami menggunakan bahasa yang mereka pahami, menggunakan peralatan-peralatan yang biasa digunakan," kata Syafrizaldi. 

Lingkungan, kata Syafrizaldi, adalah segala yang berhubungan dengan aktivitas manusia. Sebab itu, yang diperjuangkannya dalam upaya penyelamatan lingkungan adalah orang-orang yang terkait di dalamnya, bukan lingkungannya. 

"Di lingkungan pertanian, yang mesti diperjuangkan mestinya petani," kata Syafrizaldi. 

Implikasinya, upaya mendidik petani menjadi prioritas, bukan semata memperjuangkan jumlah produksi. "Ini akan menciptakan petani tangguh. Produksi akan tinggi dengan sendirinya. Kalau ilmu sudah ada, dia bisa mandiri. Selama ini konsep menyelamatkan hutan banyak salah kaprah. Orang hanya bicara hutan dan kayu. Semestinya yang dibicarakan, orang-orang di sekitar hutan," kata Syafrizaldi. 

Prinsip itulah yang diterapkan Syafrizaldi selama puluhan tahun dalam mendampingi masyarakat. "Misalnya, masyarakat di sekitar Danau Maninjau. Bersama teman-teman jaringan, saya memperbaiki sistem parangkat dalam kenagarian, negosiasi dengan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang ada di sana, dan menyebarkan cara bercocok tanam yang ramah lingkungan," kata Syafrizaldi. 

Tata ruang

Di kawasan Danau Maninjau itu, Syafrizaldi juga mendorong masyarakat menetapkan batas-batas wilayah dan tata ruang nagari. Hal itu berdampak pada berkurangnya potensi konflik antarnagari. 

"Saya juga mendorong masyarakat membuat kacio atau tabungan nagari agar tercapai katahanan dan kemandirian ekonomi nagari. Upaya ini juga pernah dilakukan di kawasan Danau Singkarak, Kabupaten Tanah Datar," ujarnya. 

Sebelumnya, di Kabupaten Merangin, Jambi, bersama jaringan Conservation Community Indonesia Warsi, Syafrizaldi melatih masyarakat untuk bisa melakukan pemetaan hutan. 

"Airnya bisa dikelola untuk kincir sehingga menjadi energi listrik. Poin positifnya, hutan desa pertama di Indonesia terbentuk di Merangin. Selain itu, dalam proses pemberdayaan kelompok petani, dilakukan transfer ilmu di bidang pertanian," kata Syafrizaldi. 

Petani diajarkan cara bertani di tanah gersang, metode organik, kiat memasarkan hasil, dan mendorong petani tampil percaya diri di berbagai forum pertanian. (M-2)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/read/2012/03/07/303616/270/115/Bersahabat-dengan-Alam-Rawan-bencana#.T1cQKVifpJg.facebook