|
SEKOLAH LAPANGAN MAMPU MENGUBAH TATANAN MASYARAKAT |
|

DUSUN KEMBANG di Kabupaten Pacitan adalah salah satu lokasi program Sekolah Lapangan Pengelolaan Agro-ekosistem Kedelai Hitam, kerjasama FIELD Indonesia dan Yayasan Unilever Indonesia. Dusun ini merupakan wilayah kecamatan kota dengan tatanan sosial yang berbeda dengan dusun-susun lain lokasi program. Di dusun ini kegiatan tanam biasanya diburuhkan. Pemilik lahan tidak turun ke sawah. Selain bertani mereka memiliki pekerjaan lain, misalnya nelayan, tukang bangunan, perangkat desa, dan pegawai negeri. Ibu-ibu petani di dusun ini juga jarang turun ke sawah. Mereka biasanya melakukan pekerjaan rumah tangga dan berjualan ikan hasil tangkapan nelayan. Namun setelah mengikuti Sekolah Petani, sekarang ini, pada penanaman padi (November 2010), ibu-ibu alumni Sekolah Petani berperan serta dalam kegiatan tanam padi dan melakukan pengamatan tanaman padi di lahan masing-masing. Dan hal ini mampu memberikan dorongan dan contoh kepada para petani lain untuk melakukan hal yang sama. Sumber: Devi, Asisten Lapangan Kabupaten Pacitan |
|
|
NURBAYA Perempuan Pemandu Desa di Desa Pucuk Lembang, Kabupaten Aceh Selatan |
|
”PENDAPATAN SAYA BISA MENINGKAT KARENA SAYA BISA MUDAH PINJAM UANG UNTUK USAHA...” SAYA LAHIR di Kotacane tahun 1964. Saya menetap di Desa Pucuk Lembang sekitar tahun 1984. Saat itu kami sudah punya anak satu orang. Suami saya orang desa ini yang sebelumnya kebetulan merantau ke Kotacane, tempat saya lahir. Matapencaharian kami adalah bertani. Saya punya sawah sekitar 1 hektar, kebun seluas 1 hektar yang ditanami coklat, dan lahan 1 hektar lain yang ditanami pinang. Kami keluarga besar dengan 11 anak. Tahun 2005 kami masih dipenjarakan. Kisahnya berawal tahun 2002, waktu itu konflik Aceh meletus. Saya sempat ikut ke hutan. Alasannya aparat keamanan tidak memberikan rasa aman pada keluarga kami. Saat itu suami saya dan anak-anak kami sering sekali dipukuli oleh aparat tanpa alasan yang jelas. Saya juga pernah ditangkap dan diinterogasi. Padahal saat itu kami sekeluarga sama sekali tidak ikut-ikutan GAM. Saat itu, bila kita ditanya oleh aparat dan kita mengaku hanya warga biasa, mereka tidak percaya dan tetap memukuli kita dengan menuduh kita sebagai anggota GAM. Oleh karena itu saya akhirnya ikut lari ke hutan.
|
|
Selengkapnya...
|
|
Resurgence of Brown Planthopper Infestations in Indonesia and East Asia: History Repeating Itself? |
|
Indonesia achieved significant success in combating brown planthopper (BPH) during the 1980s and ‘90s, after experiencing severe outbreaks on the heels of its successful rice intensification program dating back to the mid-1960s. Indonesia pioneered integrated pest management (IPM) in rice, along with the farmer field school (FFS) methodology used to promote it in Indonesia and subsequently in dozens of other countries throughout the region and around the world.
Recent outbreaks across Java (including the districts of Subang in the west, Klaten, Jepara, Pati, and Pekalongan in the centre, and Jember and Banyuwangi in the east), have impacted over 100,000 hectares. This alarming resurgence appears to indicate that either a) the species has evolved to overcome previously successful management techniques, b) conditions have altered (e.g., climate change) to the point that measures which once successfully controlled BPH infestations are no longer effective, or c) key lessons from the not-too-distant past have been forgotten, and farmers (and agricultural bureaucracies) are returning to previous, ‘pre-IPM’ management practices.
Whatever the case, it is clear that urgent action is necessary. Along with rats and white rice stemborer, BPH is a major cause of harvest failure in Indonesia and other rice-producing countries, causing grave threats to both farmers’ livelihoods and national food security.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
DESA MESIR DWI JAYA: ”WARGA LEBIH SUKA MENGADAKAN PERTEMUAN DISKUSI DI BALAI BELAJAR INI ...” |
|
”Kampung kami baru berdiri pada tahun 1992. Kami merupakan generasi pertama yang hidup di sini. Kami adalah petani-petani yang “dipindah paksa” dari 3 wilayah program transmigrasi pemerintah di Kabupaten Tulang Bawang, yaitu Kabupaten Wonosobo-Tanggamus, kawasan Gunung Balak-Lampung Tengah, dan Padang Cermin-Lampung Selatan. Kami terpaksa tinggalkan tanah dan rumah yang sudah kami kembangkan bertahun-tahun. Semua atas nama kepentingan pembangunan dari pemerintah. Malangnya, lokasi pengganti yang disediakan pemerintah seluas 1.600 hektar berupa tanah rawa pasang-surut. Kami mendapat lahan 2 hektar termasuk perumahan. Itulah tantangan awal kami mulai hidup di sini. Sepi dan berat sekali, bahkan hingga kini belum ada listrik. Setiap musim hujan, air selalu menggenangi pekarangan dan sawah ladang kami. Air melimpah di mana-mana, tetapi tidak bisa diminum karena payau. Kami harus ambil air minum di tempat yang cukup jauh, atau menampung air hujan.
|
|
Selengkapnya...
|
|
Desa Jengkok-Indramayu; Komunitas Petani Lokal, Melestarikan Benih Hasil Persilangan Sendiri |
|
“Dahulu para petani memperlakukan benih dengan istimewa dan ilmu-ilmu seleksi calon benih dimiliki semua petani. Sekarang saat benih sudah disediakan oleh kios, pengetahuan tersebut hilang. Petani terjebak pada budaya instan dan malas untuk membuat sendiri benih yang dibutuhkannya.” (Kumed, tokoh masyarakat dan petani Desa Jengkok) KALAU MAU BERTANDANG ke desa di Kabupaten Indramayu ini tidaklah sulit. Dari kota Jatibarang, ke desa ini jaraknya sekitar 7 kilometer. Bila naik bus kecil jurusan ke Cirebon hanya kurang lebih 15 menit untuk sampai di sebuah pasar, namanya Pasar Kertasemaya. Kawasan ini ramai karena merupakan pusat pasar tradisional di kecamatan ini. Ada pertokoan, beberapa mini market, warung-warung makanan, lapak-lapak pedagang, bengkel sepeda motor, area mangkal bus-bus jarak pendek, dan sebagainya. Lalu-lalang becak, sepeda motor, mobil angkutan pedesaan, bus-bus antar kota, truk-truk besar menambah semrawutnya suasana.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
|
|
|
|
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL |