|
Semangat Berbagi Mas Jo... |
|
|
Senin, 25 Juni 2012 06:59 |
Ayo dukung Joharipin mendapatkan Danamon Award. Dia petani tulen yang sehari-harinya sebagai petani padi dan mengadalkan hidupnya dari usahatani padi. Petani asal Desa Jengkok Kecamatan Kertasemaya Kabupaten Indramayu-Jawa Barat ini sudah sejak tahun 2004 menggeluti kegiatan pemuliaan tanaman padi. Diawali dengan mengikuti kegiatan "Sekolah Lapangan Pemuliaan dan Penganekaragaman Tanaman Padi" yang di Fasilitasi oleh FIELD Indonesia. Sekarang beliau sudah mulai memetik hasil dari kegiatan tersebut, benih-benih yang dihasilkannya sudah mulai bisa dimanfaatkan oleh para petani lain dengan cara saling tukar menukar benih bahkan sampai daerah kalimantan. Bongong salah satu nama benih yang telah dihasilkannya. Walaupun masih belum dapat pengakuan dari pemerintah tetapi dengan semangat berbagi beliau mau tukar menukar benihnya dengan petani lain agar petani lain pun merasakan kelebihan benih padi yang dia dan kelompoknya buat.
Sekarang beliau juga menjadi nominasi untuk mendapatkan penghargaan dari Danamond Award. Berikut adalah kutipan profil mas Joharipin yang diambil dari http://danamonaward.org/index/finalis/4/finalis%20ke-4.html. Bisa juga melihat film profilnya di alamat : http://www.youtube.com/watch?v=oKoKdx3Soig
|
|
Terakhir Diperbaharui pada Senin, 25 Juni 2012 07:21 |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ito Merintis Tanam Padi dalam Pot |
Kompas | Senin, 12 Januari 2009 | 14:16 WIB
KETIKA petani lainnya sibuk berburu benih unggul padi hibrida saat musim tanam tiba, Ito Sumitro (53) justru menempuh cara berbeda. Ia memilih padi lokal yang kemudian ia silangkan menjadi varietas unggul. Hasil kerja Ito, dipamerkan pada pertemuan kelompok tani se-Jabar di Desa Talagasari, Kecamatan Kawali, Ciamis, belum lama ini. Saat itu Ito memboyong tanaman padi dalam pot (parepot) hasil persilangannya pada setiap musim tanam (MT).
"Ini hasil kawin silang turunan kedelapan dari padi Jalawara dan padi gundul atau sriputih. Keduanya jenis padi lokal Indramayu," kata ayah empat anak yang kini tinggal di Dusun Kalensari RT 01 RW 01, Desa Kalensari, Kecamatan Widasari ini.
Suami dari Ny Jamilah ini lantas bercerita, varietas unggulan turunan kedelapan atau biasa dikenal dengan F-8 itu tak didapatkannya dengan mudah. Itu hasil kerja kerasnya selama lima tahun. "Hasil dari 54 kali persilangan pada 10 kali musim tanam di tiga petak sawah seluas 500 tumbak di Dusun Kalensari," kata jebolan SMP ini.
|
|
Selengkapnya...
|
|
SEPENGGAL DIALOG SORE DI RUMAH PETANI PESERTA SEKOLAH LAPANGAN |
|
Penanya: “Kenapa ibu-ibu ikut menjadi peserta sekolah lapangani?” Bu Hartati: “Karena ibu-ibu di sini terlibat langsung dalam pekerjaan di sawah.” Bu Nami: “Karena kami ingin mendapatkan ilmu …” Penanya: “Apakah tidak repot, ibu-ibu kan punya pekerjaan rumah tangga yang lain?” Bu Nami: “Tidak juga, sebelum berangkat ke sekolah lapangan semua pekerjaan rumah tangga seperti menyiapkan sarapan pagi dan anak sekolah sudah saya selesaikan dulu.” Penanya: “Berarti repot juga jadinya, karena ada beban tambahan …” Bu Hartati: “Memang, tapi itu tidak seberapa dibandingkan ilmu yang didapat …” Penanya: “Apakah suami ibu tidak keberatan ibu ikut sekolah lapangan?” Bu Hartati: “Justru suami saya mendukung dengan melakukan beberapa pekerjaan di rumah dan lahan yang biasa saya kerjakan.”
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Sekolah Lapangan Iklim buat Petani |
|
MI|Rabu, 14 Maret 2012 00:00 WIB
RIZALDI muda tak pernah berencana mempelajari meteorologi. Ketika ditemui di kampus Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), ia berkisah Jurusan Meteorologi Pertanian ialah pilihan ketiga saat mendaftar kuliah. "Tapi setelah didalami, ilmu ini sangat menarik. Banyak hal baru yang saya tidak tahu," ujar pria berkacamata ini. Saat itu, Rizaldi tergabung pada angkatan kedua di jurusan tersebut, kemudian berlanjut ke program pascasarjana di jurusan dan kampus yang sama. Kecintaannya pada dunia iklim dan pertanian dilandasi keyakinan bahwa iklim dan pertanian merupakan kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Kualitas panen sangat bergantung pada iklim. Berbagai jenis tanaman sebenarnya dapat dibudidayakan secara bergantian seiring dengan perubahan musim yang tentu saja sangat dipengaruhi iklim. "Sesungguhnya negara-negara majulah yang menyebabkan tingginya emisi karbon sekarang karena merekalah yang pertama memulai industrialisasi di negara mereka. Setelah revolusi industri di awal 1900-an, negara-negara maju telah memulai proses industrialisasi di negara mereka," kata Rizaldi.
|
|
Selengkapnya...
|
|
SORTASI: SEBUAH INOVASI YANG DILEMATIK? |
|
DI TERAS RUMAHNYA yang terbuat dari kayu dan berlantaikan tanah, Ibu Maryati (43 tahun), salah satu warga Desa Sumberagung, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk, tengah sibuk memisahkan kedelai-kedelai hitam yang utuh dan bagus dengan yang rusak. Pekerjaan ini sederhana dan mudah dilakukan oleh siapa saja. Cukup berbekal peralatan sederhana, seperti nampan dan tenggok kecil. Dia mengaku biasa melakukan pekerjaan sortasi ini setiap harinya sebanyak 20-30 kilogram. Dia memperoleh uang sebesar Rp. 500,- per kilogram hasil sortasi. Dalam seminggu dia sendiri mampu menyortir sebanyak 200 kilogram. “Biasanya saya mengambil 60 kilogram kedelai hitam. Dari 60 kilogram, kalau keadaan kedelainya bagus, setelah disortir menghasilkan 55 kilogram. Setiap kilogramnya saya memperoleh Rp. 500,-. Saya selesaikan selama 2-3 hari.”
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
|
|
|
|
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL |